Hasil Psikis Anak Setelah Dimarahi Orangtua, Ini Kata Psikolog

Suara. com – Rasanya, setiap orangtua pasti sudah memarahi anaknya. Tapi, tentu per orangtua punya kadar dan cara yang berbeda ketika marah di dalam anaknya. Nah, yang tak disadari, ada dampak psikis yang terjadi pada anak setelah dimarahi orangtua.

Psikolog daro RSIA Bina Medika Bintaro, Tanti Diniyanti, S. Psi, membicarakan bahwa umumnya para ibu bakal merasakan penyesalan dan rasa bersalah begitu memarahi anak. Terlebih jika anak menangis. Anak menangis ialah tanda anak merasa tidak makmur secara psikologis dan juga sungkan.

Tanti mengutarakan bahwa sepatutnya memarahi anak sepatutnya dihindari, karena anak yang menjadi korban akan mengalami trauma selalu hingga dewasa nanti.

“Ibaratnya membuat luka hati anak, kemudian itu menjelma pola semakin mendalam dan tersebut bisa menjadi potensi yang kritis di masa yang akan pegari, ” ujar Tanti ketika meluluskan keterangan melalui Instagram live Orami Parenting beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Hindari Penggunaan Gawai Berlebih, Ini Pola Asuh Anak Selama Pandemi

Dia menjelaskan, anak itu memiliki bagian memori mendalam sejak berusia 2 tahunan. Dan pada bani usia 3 tahun, ada tema tertentu yang diulang, karena tersebut anak akan selalu mengingatnya hingga dewasa nanti.

Dampak panjangnya, anak mau selalu meniru perilaku orangtua. Serta, semakin sering orangtua memarahi, luhur kemungkinan anak akan mengikuti tabiat yang dilakukan oleh orangtua terhadapnya.

Bertambah lanjut, kata Tanti, kebiasaan mengomeli anak akan memperburuk hubungan tim, karena anak yang dimarahi akan timbul rasa kesal, bahkan seringkali memberontak terhadap orangtua. Anak pula akan mudah menangis, karena dia merasa kurang mendapatkan rasa aman dan nyaman yang seharusnya dia dapat dalam keluarga. Hal tersebut bisam embuat anak tidak bakal mudah percaya dengan orangtua sedang.

“Nah, itu terburuknya mengalami depresi. Karena apa yang dilakukan orangtua akan mempengaruhi psikisnya. Anak akan memiliki kepribadian menjadi pendiam, pemurung, dan invalid ekspresif. Bahkan, beberapa kasus menunjukan anak akan mengalami gangguan rebah dan makan, ” jelasnya.

Dia pula menyarankan, untuk orangtua sebaiknya hindari emosi, lakukan leveling atau menyelaraskan suara dengan anak, dan mempertemukan hati, pikiran, dan orangtua menetapkan mengajukan pertanyaan yang tidak mengintervensi.

Baca Juga: Buat Anak Nyaman Semasa di Rumah, Kak Seto Menimbulkan Ortu Jangan Sok Jadi Atasan

“Mengajari anak mengeluarkan pendapatnya tersebut lebih baik, daripada kita terbawa emosi. Dan selalu lakukan permufakatan bersama dan diakhiri selalu dengan memberikan pelukan untuk anak, ” tuturnya.